PENDAHULUAN
Tanaman tomat (Lycopersicon lycopersicum L.) termasuk dalam famili Solanaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Tomat bisa dibudidayakan di berbagai jenis lahan, baik di dataran rendah maupun tinggi, termasuk lahan bekas sawah maupun lahan kering.
SYARAT TUMBUH
Tomat dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga tinggi, dan berkembang optimal di tanah yang gembur, subur, berstruktur remah, kaya bahan organik, serta memiliki pH tanah antara 5–6. Suhu ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 21–24°C. Penentuan waktu tanam sebaiknya disesuaikan agar masa berbunga dan berbuah jatuh di musim kemarau, namun masih ada sedikit curah hujan.
BUDIDAYA TANAMAN
1. Penyemaian
Sebelum ditanam, benih direndam dalam air hangat (50°C) atau larutan Previcur N (1 ml/l) selama satu jam. Benih disemai merata di bedengan dengan media campuran tanah dan pupuk kandang/kompos (perbandingan 1:1), lalu ditutup daun pisang selama 2–3 hari. Bedengan disarankan memiliki pelindung dari kasa atau plastik transparan untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Setelah 7–8 hari, bibit dipindah ke bumbunan daun pisang atau pot plastik dengan media serupa, dan disiram setiap hari. Bibit siap dipindah ke lahan setelah berumur 3 minggu.
2. Pengolahan Lahan
Gunakan lahan yang bukan bekas tanaman sejenis (keluarga Solanaceae). Sisa tanaman lama dibersihkan dan dikubur. Jika pH tanah di bawah 5,5, tambahkan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1,5 ton/ha, 3–4 minggu sebelum tanam. Kapur disebar merata dan dicangkul agar tercampur dengan tanah hingga mencapai pH sekitar 6. Buat guludan selebar 60 cm atau bedengan selebar 120–160 cm, disesuaikan dengan panjang lahan. Tinggi guludan dibuat 40–50 cm saat musim hujan dan 0–20 cm saat musim kemarau.
3. Penanaman
Bibit tomat berumur 3–4 minggu ditanam setelah proses pengapuran selesai dalam lubang tanam yang telah disiapkan.
4. Pemupukan
Gunakan pupuk kandang sapi atau kuda sebanyak 30 ton/ha (sekitar 1 kg/lubang tanam). Pupuk kimia berupa NPK 15-15-15 sebanyak 1000–1200 kg/ha, atau pupuk tunggal seperti Urea (125 kg/ha), ZA (300 kg/ha), TSP (250 kg/ha), dan KCl (200 kg/ha). Pupuk dasar terdiri dari pupuk kandang, setengah bagian Urea dan ZA, serta seluruh TSP dan KCl, diberikan 2–7 hari sebelum tanam. Sisa pupuk Urea dan ZA diberikan saat tanaman berumur 4 minggu dengan cara ditugal 10 cm dari batang tanaman.
5. Pemakaian Mulsa
Gunakan jerami setebal 5 cm (10 ton/ha) saat musim kemarau, diberikan dua minggu setelah tanam. Alternatif lain adalah mulsa plastik hitam perak, yang bisa digunakan di musim hujan dan kemarau, dan dipasang sebelum penanaman.
6. Pemeliharaan
Perawatan tanaman tomat meliputi penyiraman harian sampai tanaman tumbuh normal, lalu disesuaikan dengan kebutuhan. Tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal disulam hingga usia 2 minggu. Gulma dikendalikan bersamaan dengan penggemburan dan pemberian pupuk tambahan. Pemangkasan tunas liar dilakukan pada tunas air yang tidak produktif agar tanaman hanya memiliki 1–3 cabang utama. Tanaman juga perlu diberi ajir dari bambu (panjang 1–1,5 m) untuk menopang dan mencegah roboh, dengan ikatan longgar agar tanaman tetap dapat tumbuh leluasa.
7. Pengendalian Hama dan Penyakit (OPT)
Hama dan penyakit yang umum menyerang antara lain kutu kebul, pengorok daun, ulat grayak, ulat buah, penyakit busuk daun, layu, dan virus kuning. Ulat tanah bisa dikendalikan secara manual, namun jika serangan parah, dapat disemprot insektisida. Strategi pengendalian lainnya meliputi:
Menanam tanaman perangkap seperti tagetes atau jagung di sekitar tanaman tomat untuk mengusir Helicoverpa armigera.
Menggunakan jagung sebagai border dan memanfaatkan predator alami (Menochilus sexmaculatus) untuk mengendalikan kutu putih (Bemisia tabaci).
Memasang perangkap kuning untuk menarik dan mengendalikan serangga hama.
Penggunaan pestisida hanya dilakukan jika perlu, dengan pemilihan yang tepat serta sesuai dosis, volume, waktu, dan cara aplikasi.
8. Panen dan Pascapanen
Tomat mulai dipanen pada umur 2–3 bulan setelah tanam, tergantung varietas dan kondisi tanaman. Pemetikan dilakukan sebanyak 10–15 kali dengan interval 2–3 hari. Buah siap panen saat matang sekitar 30%. Setiap tanaman bisa menghasilkan 1–2 kg buah. Untuk pengangkutan jarak jauh, buah dikemas dalam peti kayu berisi sekitar 30 kg.